Kamis, 21 Juli 2011

ANGGOTA BARU "UDIN SEDUNIA"

Satu lagi anggota “Udin Sedunia”, “Udin yang punya niat minggat sebelum dicekal yaitu “Nazaruddin.” Bisa jadi pembuktian perbuatan korupsi dirinya akan sulit dilaksanakan oleh para penegak hukum. Tapi, bila memang ia tidak korupsi, mengapa mendadak ia ke luar negeri ketika akan dimintai penjelasan oleh KPK. Berobat ? seperti Nunun atau para tersangka koruptor lainnya yang ‘menetap’ di Singapura? “Alasan basi…!!!”
Memang sulit membersihkan negeri ini dari para koruptor, ibarat membersihkan lantai dengan sapu yang kotor, atau ibarat mengoperasi timbunan kanker di tubuh, atau ibarat maling yang teriak maling. Jadi, tipis kelihatannya perbedaan antara korupsi dan hibah, tipis perbedaan antara korupsi dan rejeki, “mendapatkan uang yang haram saja susah, apalagi yang halal….” demikian kata slogan orang yang putus asa.
Sebetulnya, kenapa sih ke Singapura? yang pasti karena negara kecil tersebut tidak mau kehilangan rejeki dengan hadirnya koruptor Indonesia di sana. Berapa banyak dana yang mereka bawa dari Indonesia dan simpan di sana? (bisa jadi Singapura akan bangkrut jika tidak ada uang koruptor dari Indonesia yang diparkir di sana). Singapura juga tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia (ya jelaslah, siapa yang mau membuat perjanjian yang merugikan dirinya). Tapi alasan yang paling mudah adalah karena Singapura dekat dengan Indonesia. Karena dekat maka biayanya murah (bagi rekan-rekannya). Dengan demikian mudah bagi para ‘penjenguk’ untuk bertemu dengannya setiap saat. Tentu bukan pertemuan biasa melainkan membuat rancangan ‘sandiwara’ yang akan dimainkan atau diperankan sepulang ia nanti.
Ingat saja peristiwa “Gayus” setelah ia pulang dan ‘masuk penjara’ ternyata ia bisa tetap plesiran ke Bali atau ke luar negeri. Itu merupakan bagian dari ‘sandiwara’ yang harus atau bisa dilakonkan sekembalinya ia dari ‘pengasingan.’ Apakah setelah peristiwa itu (ketahuan wartawan) ia ‘kapok’ ke luar dari penjara ?. Belum tentu, skenario baru bisa diciptakan atau dimainkan kembali untuknya. Jika harus sesuai dengan janji perannya semula, maka sang ‘Sutradara’ perlu ‘membersihkan panggung’ terlebih dulu sebelum ia melanjutkan perannya lagi.
Kita tunggu saja, apa peran yang akan dimainkan Nazaruddin sekembalinya dari Singapura. Mengapa ia tidak menetap saja dan menjadi warga negara di sana? Sangat kecil kemungkinan itu. Ia sudah terlalu lama tinggal di Indonesia sehingga telah mendarah-daging, baik dalam kehidupan sosial-budaya, mencari nafkah, dan sebagainya. Apa enaknya tinggal di negara ‘asing,’ kan paling enak tinggal di negeri sendiri, apalagi sudah dikenal sebagai orang kaya?
Apakah enak makan dari uang korupsi? Makan sih sesuai selera, kalau suka ya enak saja. Masalahnya bukan di sana, tapi “jadi apa makanan di tubuhnya? (orang yang memakan hasil korupsinya)” Dunia kedokteran terhebatpun tidak ada yang pernah tuntas menjawab selain teoritis saja, misalkan konsumsilah “prinsip 4 sehat 5 sempurna” setiap hari agar tubuh menjadi sehat. Berapa banyak orang yang sudah memenuhi anjuran tersebut, tetapi masih sering sakit juga? atau sebaliknya, berapa banyak yang tidak memenuhi anjuran tersebut, tetapi sehat-sehat saja? Ada satu unsur yang mempengaruhi yang sama sekali tidak terkait dengan fisik makanan itu sendiri. Unsur tersebut adalah “berkah” yaitu keridhoan Tuhan yang menyertai makanan yang akan dikonsumsinya.
Berapa banyak orang yang ‘curang’ (termasuk koruptor, pengganjal rejeki orang, dll.) di masa tuanya hidup sengsara (misalkan penyakitan, stroke, dan keinvalidan lainnya), berapa banyak orang yang ‘curang’ anggota keluarganya (yang menjadi tanggung jawab dirinya) menyusahkan dirinya (misalkan sering mengalami musibah, sakit parah, sakit jiwa, ketergantungan narkoba, sering berbuat kriminal, dan lain-lain), berapa banyak orang yang ‘curang’ akan dicurangi lagi oleh orang lain dengan jalan yang tidak diduga-duga (misalkan ditipu, dirampok, diculik, dan sebagainya)?
Oleh karena itu, “jangan korupsi…!!!” Masih untung jika ‘karma’ itu sudah terbayar ketika kita masih hidup di dunia ini (lunas di dunia), yang lebih sengsara, jika di dunia belum diberi ‘karma’ itu, maka tidak akan ada lagi kata penyesalan jika karma itu terjadi di akhirat…

Jumat, 15 Juli 2011

SEMAKIN BANYAKNYA GENERASI MADESU


Hari ini diumumkan hasil SNMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Hampir 550.000 yang ikut SNMPTN. Mungkin yang diterima tidak banyak. Karena sebelumnya pihak perguruan tinggi berdasarkan peraturan pemerintah tahun 2011, sudah lebih 60 persen siswa SMU yang mendapat undangan masuk perguruan tinggi negeri. Sisanya berebut di SMPTN. Mereka yang tidak diterima di perguruan tinggi negeri akan memilih masuk swasta. Mereka akan berusaha masuk ke swasta. Dengan pertimbangan ingin mendapatkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Memang sangat tidak mungkin perguruan tinggi negeri menampung seluruh lulusan SMU setiap tahun. Karena jumlah bangku yang tersedia sangat terbatas. Lalu mereka yang tidak masuk perguruan tinggi negeri dan swasta akan menganggur. Setiap tahun jumlah mereka yang menganggur  samakin bertambah.

Persoalan berikutnya bagi mereka yang diterima di perguruan tinggi negeri dan swasta harus mengeluarkan uang masuk tidak sedikit. Puluhan juta. Sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung yang menjadi pavorit uang masuknya Rp 50 juta rupiah. Masih harus membayar lagi uang  semester jutaan rupiah. Masih ditambah uang aktivitas perkuliahan di kampus yang jutaan rupiah.

Perguruan tinggi negeri juga membuka kuliah internasional  berbagai fakultas. Dengan uang kuliah yang mahal. Tidak dapat dibayangkan lagi. Terutama kalangan "middle" yang gaji orang tuanya pas-pasan. Semuanya menggambarkan perguruan tinggi yang menjadi tempat mencari ilmu, dan sebagai lembaga pendidikan, sekarang statusnya  berubah menjadi industri. Pendidikan menjadi sebuah industri. Perguruan tinggi bukan  tempat mendidik dan mencari ilmu, tetapi sudah menjadi sebuah industri, yang tidak semua bisa orang masuk ke dalamnya.

Bukan hanya  perguruan tinggi negeri yang biayanya mahal. Sekolah menengah (SMU) sekarang ikut mahal. Terutama sekolah-sekolah yang menggunakan standar RSBI (Rintisan Sekolah Bertarap Internasional), sekolah  yang di favoritkan menjadi sangat mahal. Untuk masuk sekolah yang sudah menggunakan RSBI bisa puluhan juta. Dengan standar RSBI itu peluang siswa bisa masuk ke sekolah yang dianggap favorit dengan mutu sekolah yang baik menjadi sangat sulit.

Akhirnya yang berhak mendapatkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi dan sekolah menengah yang memiliki standar kualitas yang baik menjadi sangat terbatas. Perguruan tinggi  dan sekolah menengah favorit itu, hanya bisa dimasuki mereka yang memiliki "uang", dan mereka yang "pandai", tetapi tidak mungkin lagi dapat dimasuki kalangan "midlle" (menengah), yang tidak  memiliki cukup uang. Karena pendidikan sudah menjadi industri.

Dalam sistem kapitalis lembaga pendidikan menjadi sebuah industri. Lembaga pendidikan menjadi mesin pencetak uang. Para pengelola pendidikan menjadikan lembaganya menjadi mesin pencetak uang. Para pengola pendidikan akan bekerjasama dengan para pemilik modal. Kemudian para pemilik modal mendapatkan keuntungan yang berlipat dari industri pendidikan itu.

Bagi mereka yang sempat mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi, hanya mempunyai tujuan yang pragmatis. Selesai kuliah dengan IPK (Indeks Prestasi Kuliah) yang tinggi, dan kemudian memasuki lapangan kerja. Masuk ke dalam perusahaan asing dan swasta yang dapat memberikan gaji kepada mereka. Tidak ada yang lain.

Tetapi itu tidak mudah. Setiap tahun perguruan tinggi mengeluarkan lulusan mereka yang jumlahnya mencapai jutaan di seluruh Indonesia. Mereka semua mengantri ingin masuk ke dunia lapangan kerja. Sehingga terjadi persaingan yang luar biasa di perusahaan-perusahan yang ada.

Dengan kondisi seperti itu, perusahaan dapat memberlakukan mereka dengan gaji yang minimal. Seorang yang lulus di sebuah perguruan tinggi negeri terbaik dari fakultas yang favorit, ketika menjadi pegawai di sebuah perusahaan swasta hanya digaji Rp 2 juta rupiah sebulan. Sangat ironis.

Setiap tahun angkatan kerja dari lulusan perguruan tinggi semakin banyak. Pemerintah tidak mampu menampung mereka. Suatu saat akan terjadi ledakan pengangguran yang dahsyat. Pengangguran orang-orang yang terdidik.
Mereka tidak dapat berbuat banyak. Karena pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Dengan pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini berkisar hanya sekitar 6 persen, tidak akan mampu pemerintah menyerap lulusan perguruan tinggi.

APBN tahun 2011 mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun. Tetapi, lebih dari 80 persen hanya untuk rutin (gaji pegawai negeri sipil dan militer). Birokrasi semakin bengkak. Daerah-daerah terus melakukan pemekaran. Kabupaten dan kota terus tumbuh, seperti jamur di musim hujan. Semuanya menyedot APBN. Masih harus ditambah biaya pemilu dan pilkada, yang mengambil anggaran puluhan  triliun. Beban APBN Indonesia hanya digerogoti oleh birokrasil yang korup dan tidak produktif. Mereka yang menjadi benalu negara, sampai sekarang terus membengkak. Sehingga, pendidikan menjadi tidak lagi penting dan di biarkan.

Karena itu, sekarang yang ada hanya pengangguran, meskipun biaya pendidikan sudah dinaikkan, dan sekarang menjadi Rp 63 triliun, tetapi itu hanya untuk menopang birokrasi pendidikan, seperti gaji guru, dosen, dan biaya sekolah ke luar negeri.  Bukan biaya pedidikan.

Pendidikan menjadi sangat elitis. Sangat sedikit mereka yang mendapatkan pendidikan yang memadai. Sampai ke perguruan tinggi. Karena kalangan yang ekonominya "middle" yang menjadi rata-rata rakyat Indonesia mereka akan tersisih. Mereka akan menjadi permanen dengna kondisi yang mereka hadapi. Karena adanya sistem yang telah membelenggu mereka.

Anaknya tukang bubur ayam, tukang lontong sayur, tukang somay, tukang kuli bangunan, tukang ojek, dan pedagang asongan jangan berharap berubah nasib mereka. Karena sudah dibelenggu sistem. Mereka yang miskin dan lemah secara  ekonomi tidak akan pernah mengalami perubahan apapun. Padahal mereka sebagai warga negara mempunyai hak mendapatkan pendidikan yang sama. Tetapi semuanya hanya ilusi.

Dalam sistem kapitalis orang-orang miskin di perkotaan akan semakin tersisih. Tanpa mereka melakukan perjuangan dengan gerakan yang menolak sistem itu, mereka tidak akan pernah berubah. Mereka akan permanen dalam kondisi yang miskin dan tersisih selamanya. Tidak mungkin kaum pemilik modal akan mengulurkan tangan membantu mereka.
Pemerintah yang sudah dikuasai oleh partai-partai politik, dan partai-partai politik mengabdi kepada para pemilik modal, yang akan membantu mereka beraktivitas poliltik, seperti pemilu, dan mengelola negara, dan pasti mereka akan menjadi bagian dari kekuatan dan kepentingan kapitalisme itu.

Partai-partai  politik akan membuat aturan dan undang-undang yang akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kaum pemilik modal, yang akhirnya mereka akan menguasai negara secara diam-diam.

Sementara,  anak-anak muda yang terdidik, yang lulus dari perguruan tinggi, hanya menjadi alat produksi dengan gajinya yang sangat sedikit. Tidak mungkin mereka akan  mendapatkan hak mereka. Kaum kapitalis sudah menguasai partai-partai politik dan pusat kekuasaan, sehingga mereka leluasa bertindak apapun.

Indonesia sudah ikut dalam perjanjian "free trade area" (kawasan perdagangan bebas) di kawasan negara-negara Asia. Dampaknya akan terjadi mobilitas antar negara yang luar biasa. Lalu lintas manusia dan barang  akan berlangsung  bebas di seluruh kawasan Asia. Tidak ada lagi "barrier"(hambatan), dan semuanya akan terjadi dalam waktu dekat ini.
Kita sebentar lagi akan melihat di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman, di mana gedung-gedung pencakar, bukan lagi orang Indonesia yag mengisi kantor itu. Tetapi orang asing. Karena sudah begitu hukumnya.

Rakyat Indonesia, generasi mudanya hanya tinggal duduk-duduk, dan dengan masa depan yang suram (madesu), karena pemerintah tidak mjembantu mereka dengan pendidikan yang baik, dan hanya melindungi para birokrat yang busuk dan korup. Uang APBN hanya habis untuk menggaji mereka.

Pendidikan dikuasai anak-anak para "ambtenar" (para pejabat, orang kaya, dan pemilik modal), sementara rakyat yang biasa, tidak  mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka tidak lagi dapat bersaing "kompetitif" menghadapi persaingan global. Akhirnya Indonesia hanya akan menjadi bangsa "parah".

Senin, 11 Juli 2011

ANDA HARUS TAHU, INDONESIA NEGERI KAYA RAYA



Tidak bisa dipungkiri lagi, tidak mungkin bisa kita elakkan lagi, bahwa sebenarnya Indonesia adalah sebuah negara yang dikaruniai sangat dasyat oleh ALLAH sebagai negara yang indah, asri, dan kaya raya. Tumbuhan, hewan, tanah dan air Indonesia melimpahkan rezeki yang sangat berlimpah, mengeluarkan ribuan, bahkan jutaan sumber daya alam yang sangat luar biasa. Minyak bumi negara kita, Indonesia, merupakan minyak bumi terbanyak ke-7 di dunia. Batu bara Indonesia, merupakan batu bara yang diekspor terbanyak ke-2 di dunia. Emas Indonesia, merupakan emas terbanyak ketujuh di dunia.
Belum cukup? Anda tahu karet? Ya… Karet alam Indonesia merupakan karet alam terbanyak kedua di dunia (setelah Thailand). Anda suka makan coklat dan meminum kopi kan? Apakah anda tahu, bahwa Coklat dan kopi Indonesia merupakan coklat dan kopi terbanyak ketiga dan keempat di dunia? Bagaimana dengan kelapa Sawit (kelapa sawit adalah bahan baku minyak goreng, bisa juga dibuat biofuel)? Kelapa sawit Indonesia merupakan kelapa sawit yang terbanyak kedua yang diekspor ke dunia (setelah Malaysia). Kayu kita, jangan ditanya lagi, jumlah kayu Indonesia merupakan kayu terbanyak pertama (numero uno = nomor satu) di dunia.
Belum lagi, ikan laut Indonesia, merupakan ikan laut terbanyak keenam di dunia. Udang tambak Indonesia, merupakan udang terbanyak keempat di dunia. Apa lagi yang tidak kita miliki? ALLAH yang maha pemurah dan pemberi telah memberikan karunia yang sangat luar biasa kepada kita, namun bagaimana dengan rasa syukur kita? Apakah kita sudah mengoptimalkan apa yang kita miliki? Atau kita malah pergunakan itu semua sebagai ajang memperkaya pribadi dan mengisi perut pribadi saja sampai buncit? Atau kita serahkan kepada orang-orang asing?  Naudzubillah min dzalik…
Terlalu banyak sudah teguran yang telah ALLAH berikan kepada kita. Sudah terlalu sering derita masyarakat Indonesia alami sebagai manifestasi sentilan ALLAH kepada bangsa ini. cukup sudah! Jangan pernah membangkang lagi! Jangan pernah kita menyombongkan diri lagi! Jangan pernah berdalih lagi! Jangan pernah lagi kita memikirkan hanya perut dan nafsu kita melulu! Cukup sudah! Jangan pernah memancing amarah ALLAH yang sangat dahsyat itu…

Mulailah berpikir berbasiskan negara. Mulailah dengan berpikir berbasiskan masa dan masyarakat. Mulailah dengan berpikir dan bertindak untuk kemashlahatan orang banyak, rakyat ini, bangsa ini. Mungkin karena do’a-do’a dan rintih tangis mereka, orang-orang tua jompo, mungkin karena alunan ayat-ayat Qur’an yang dikumandangkan oleh mereka, para santri, di surau-surau reot di pedesaan, mungkin karena suara-suara rintihan dzikir yang mereka, rakyat yang kena bencana banjir lumpur lapindo di Sidoarjo, atau mungkin juga karena tangis bayi kelaparan dan jeritan hati mereka, rakyat Indonesia yang hidup kekurangan dan kelaparan, yang masih menghalangi amarah ALLAH yang maha dahsyat untuk turun ke bumi pertiwi ini. Jangan sampai ya ALLAH…

Hai saudaraku… Hai para sahabatku… Hai para pemimpinku… cukup sudah ini semua! Cukup sudah ini semua! Kita harus memulai tatanan kehidupan baru. Kehidupan yang ALLAH rahmati dan ridhoi. Bersihkan kekotoran itu dari diri kita masing-masing. Kembalikan itu kepada yang berhak, kepada masyarakat kita, kepada negara dan bangsa ini. Bangsa ini sedang terpuruk dan sakit, padahal masih ada 10% dari penduduk ini yang memiliki uang lebih dari 1 Milyar rupiah. Masih ada orang Indonesia yang memiliki dan berteduh di dalam rumah-rumah elit. Masih ada pula orang Indonesia yang berkendara bagus di dalam keseharian mereka. Juga masih ada orang Indonesia yang memiliki kekayaan lebih dari 40 trilyun rupiah! Padahal negaranya sedang sakit. Bumi yang mereka injak sedang sekarat. Padahal itu semua semu di mata ALLAH. Kekayaan yang kita miliki tidak ada artinya di mata ALLAH. Ya ALLAH, sadarkanlah kami semua… “Sekiranya nilai dunia di sisi ALLAH sebanding dengan satu sayap nyamuk saja, tentulah ALLAH tidak akan memberikan kenikmatan dunia itu kepada seorang kafir pun, meski sekedar seteguk air minum” (HR. At-Tirmidzi).

Agama tidak pernah melarang kita untuk menjadi kaya, sama sekali tidak. Tidak ada satu ayat pun yang menghalangi umat Islam ini untuk memiliki harta berlimpah, namun, jika itu didapat dengan cara tidak etis (yang mengerikan bahwa kita merasa itu adalah etis, padahal jauh dari etis…), tidak bermoral, bahkan keji, kotor dan haram (mudah-mudahan hati kita semua terbuka), tunggulah azab ALLAH sangat pedih. Di samping itu, sebenarnya ada hak fakir dan miskin di dalam harta kita. Rasulullah bersabda, “Bukan dari golongan kami, orang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan” (Al-hadis). Kalau definisi tetangga merupakan orang samping rumah kita saja, maka terbebaslah orang-orang yang hidup di lingkungan elit akan hadist ini. Hadist ini harus dicerna dengan cara lebih mendalam (bijak). Tetangga kita bukan hanya tetangga samping rumah kita saja, jika kita hidup di sebuah kompleks, seharusnya, yang namanya tetangga kita adalah termasuk mereka yang hidup di sekitar kompleks kita. Jika kita hidup di kota Jakarta, seharusnya, tetangga kita adalah semua orang di sekitar Sukabumi. Jika kita hidup di daerah Jawa Barat, maka, seharusnya lagi, tetangga kita adalah semua orang yang tinggal di daerah lain di luar Jawa Barat. Jika kita hidup di pulau Jawa, ya tentunya, tetangga kita adalah semua orang yang hidup di pulau-pulau lain di luar pulau jawa. Dan jika kita hidup di negeri ini, Indonesia, maka, pastinya, tetangga kita adalah seluruh negeri di dunia ini seperti Palestina, Irak, Afghanistan, dll. Jadi pemahaman hadist di atas, jangan dipahami secara sempit.

Maka dari itu, sebenarnya, mereka yang hidup di daerah Sukabumi, Bandung, Tangerang, Bekasi, Bogor, Semarang, Purbolinggo, Jogjakarta, Lapindo, Bali, Papua, Malaysia, Singapura, Eropa, Afrika, Amerika, Ethiopia dan Kutub utara serta Kutub selatan, mereka adalah tetangga kita, dan jika mereka ber-Tuhan-kan ALLAH SWT dan ber-Rasul-kan Muhammad SAW, mereka itu adalah saudara kita. Islam berkonsepkan “Rahmatan Lil Alamin”.

Banyak sekali masalah yang sedang negeri ini hadapi. Tiga masalah besar yang melanda rakyat ini adalah masalah disintegrasi moral, kebodohan dan kemiskinan. Namun saya tidak akan membahas semua permasalah, bidang, yang sedang dihadapi negeri ini. Mungkin tidak akan pernah cukup waktu untuk mengupas itu semua. Atau mungkin pula karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki. Saya hanya berharap semoga kondisi negeri ini bisa terus membaik dan marilah kita kembali kepada suatu aturan yang diridhoi Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat itu, kerena itu Allah rasakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” [QS. An-Nahl: 112].

Dalam ayat di atas ada dua bentuk siksaan yang diberikan Allah kepada orang yang berlaku tidak wajar: kelaparan sebagai simbol siksaan fisik dan ketakutan sebagai simbol siksaan psikis.

Marilah kita merenungi sebuah ayat: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” [QS. Al-A’raf: 96].

Sabtu, 09 Juli 2011

SEBUAH NEGERI BERNAMA INDONESIA

Waktu itu kelompok saya mendapatkan tugas untuk mempresentasikan tentang kondisi geografi di Indonesia pada mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial. Dari pembahasan tersebut jika kita renungi ternyata Indonesia memang adalah negara yang sangat kaya raya Sumber Daya Alamnya. Akan tetapi pemanfaatan Sumber Daya itu sendiri sangatlah kurang dan sangat jauh jika melihat negara-negara berkembang lainnya. Apakah karena Indonesia sangat bergantung pada penggunaan Sumber Daya Alamnya sehingga terlena dengan luasnya alam di Indonesia?!
Tanpa disadari tindakan eksploitasi hutan, pengeboran minyak, penambangan sumber daya alam lainnya yang ada di Indonesia perlahan-lahan akan habis. Hal itu tidak dapat dipungkiri karena hal tersebut sudah terjadi sejak zaman pemerintahan Orde Baru yang memberikan pintu terbuka bagi Penanam Modal Asing yang telah melirik bagaimana banyaknya Sumber Daya Alam di Indonesia ini.
Hutan yang dulu begitu sangat di banggakan, dan juga kalimat syair “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” mungkin kini semakin miris jika kita harus membuka mata dan melihat bagaimana kenyataan yang ada. Bahkan ketika saya melihat di internet Hutan Soeharto yang ada di Balikpapan-Kalimantan Timur, hutan yang menghiasi di pinggir jalan itu hanyalah yang ada di pinggir jalan. Akan tetapi jika melihat lebih dalam lagi betapa kagetnya bahwa banyak sekali pohon-pohon yang di tebangi. Belum lagi jika melihat keadaan hutan yang ada di Papua, pasir-pasir hasil dari penambangan emas harus di buang secara bebas di sebuah lahan yang terbuka dimana di dalamnya masih banyak pohon-pohon yang tumbuh dengan baik disana.
Lalu harus bagaimanakah kita sebagai anak bangsa? Apakah peran pemerintah masih kurang cukup? Dari diskusi saya dengan teman-teman dan dosen kuliah pagi itu mengatakan, bahwa jumlah hutan saat ini hanyalah sejumlah 80 juta hektar, dan setiap tahunnya berkurang menjadi 2 juta hektar. Haruskah jumlah tersebut semakin berkurang? Sedangkan jika melihat negara China, pertahunnya jumlah hutannya bertambah. Mengapa? karena mereka mengimpor hasil hutan dari Indonesia ke negaranya.
Oleh karena itu, memang menjaga alam yang ada di sekitar kita sangatlah perlu. Saya masih teringat film Naga Bonar Jadi 2 yang mempertahankan lahannya agar tidak di manfaatkan. Jangan terlena dengan hasil kekayaan dari Sumber Daya Alam karena semakin lama, Sumber Daya Alam tersebut akan semakin habis. Mungkin kita negara Indonesia harus banyak belajar dari negara lain bagaimana memanfaatkan Sumber Daya Alam demi memajukan Indonesia, Perekonomiannya bahkan menjaga alam Indonesia yang sangat luar biasa. Disinilah tugas kita selaku anak bangsa yang harus peduli terhadap negerinya sendiri, marilah kita mencintai lingkungan kita, melestarikan dan menjaganya agar anak cucu kita bisa menikmati dan hidup nyaman di sebuah negeri bernama Indonesia.

Sabtu, 02 Juli 2011

INDONESIA KITA, SIAPA LAGI YANG AKAN MEMAKMURKANNYA?

Salah satu penyebab kemiskinan adalah bila kita mengkonsumsi sesuatu yang tidak bisa kita produksi sendiri – karena berarti kita harus membelinya dari luar – tetapi inilah yang terjadi di negeri ini selama 50 tahun terakhir. Lima puluh tahun lalu tepatnya 1961, Indonesia hanya mengimpor gandum sebanyak 153,000 ton , tetapi kini (data terakhir FAO baru 2007) impor itu menjadi 5.5 juta ton atau naik menjadi 36 kali-nya – padahal dalam rentang waktu tersebut jumlah penduduk kita ‘hanya’ menjadi 2.5 kalinya. Jadi untuk setiap penduduk negeri ini, ada peningkatan konsumsi bahan pangan yang tidak bisa kita produksi sendiri untuk gandum saja sebesar lebih dari 14 kali lipat selama setengah abad ini.
Untuk bahan makanan tradisional kita, tahu tempe misalnya – lima puluh tahun lalu seluruhnya di supply kebutuhan bahan baku kedelainya oleh produksi kedelai dalam negeri yang mencapai 426,000 ton pada tahun tersebut. Kini produksi kedeleai kita naik hampir 40 %nya menjadi sekitar 593,000 ton, tetapi bila setengah abad lalu kita tidak mengimpor kedelai sama sekali – sekarang kita mengimpor kedelai sampai 2.2 juta ton atau sekitar 3.7 kali produksi kita sendiri.
Lantas dimana masalahnya ?. Di contoh pertama, makanan dari gandum – tanpa sengaja kita telah menjadi korban pemasaran globalnya negara produsen gandum. Bagaimana mungkin negeri dengan produksi gandum nol, berubah menjadi konsumen gandum yang begitu besar dan terus meningkat setiap tahunnya ?.
Di contoh kedua kedelai, bisa jadi kita menjadi korban prioritas kita sendiri. Bahan makanan dari kedelai yang mestinya sangat memungkinkan untuk ditanam dengan cukup di negeri ini – ternyata tidak meningkat secara berarti selama setengah abad terakhir, padahal sudah pasti ada peningkatan kebutuhan yang begitu besar – karena naiknya jumlah penduduk. Walhasil peningkatan kebutuhan ini pula yang ditangkap oleh para pemasar global untuk komoditi kedelai.
Itulah sebagai gambaran apa yang terjadi selama 50 tahun terakhir di negeri ini, nampaknya kita gagal mengantisipasi sisi demand atas kebutuhan pokok kita sendiri – atau sengaja digagalkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan, untuk kemudian mereka dapat mengisi sisi supply – yang memang nyatanya tidak bisa kita isi sendiri.
Tetapi saya pikir tidak ada gunanya kita mengeluhkan apa yang sudah terjadi selama setengah abad lebih ini, yang lebih penting adalah bagaimana agar anak-anak cucu kita kelak tidak lebih buruk lagi keadannya. Apa yang kita rasakan kini adalah buah karya kita sendiri di masa lalu, maka kini waktunya kita berkarya maksimal agar anak cucu kita bisa menikmati hasilnya kelak.
Sekedar pembanding, berikut adalah apa-apa yang dilakukan oleh orang lain diluar sana untuk mengantisipasi kebutuhan masa depannya :
· Hedge Fund – George Soros, Investment House seperti Blackrock, dan retirement plan giants seperti TIAA-CREF telah mulai menanamkan investasinya di ladang-ladang perkebunan dimana-mana, “from Midwest to Ukraine to Brazil”.
· Lord Jacob Rothchild, melikuidasi aset perusahaannya di London Stock Exchange untuk ditanamkam dalam investasi bisnis agrikultur dan membeli sebuah perusahaan agrikultur di Brazil bernama Agrifirma Brazil.
· Daewoo Logistic mengumumkan investasi US$ 6 milyar untuk menyewa hampir separuh “arable land” , tanah subur atau tanah yang bisa ditanami di Madagascar.
· Para investor dari Timur Tengah mulai berinvestasi di Blue Nile dan White Nile Sudan yang dihuni mayoritas kaum muslim di Sudan bagian Utara yang akan potesial untuk dikembangkan menjadi “Agricultural Power House in The World”. · Private Equity besar dari Canada AgCapital mulai berinvestasi di lahan-lahan perkebunan.
· Seorang perempuan Amerika bernama Shonda Warner yang berkarir sebagai derivative trader di Goldman Sach dan kemudian menjadi hedge fund executive di London, meninggalkan karir gemerlapnya, balik lagi ke kampung halamannya masuk ke dalam bisnis agrikultur. Kemudian dia mendirikan firma investasi untuk agrikultur dengan strategi sederhana “Buy undervalued farm land and profit the coming global agriculture boom”.
Bukan hanya pihak swasta, negara-negara di dunia-pun terus bergegas berlomba-lomba membeli atau menyewa lahan-lahan di seluruh dunia untuk mengantisipasi kebutuhan masa depannya.
· China mengumumkan investasi bisnis agrikultur di Africa sebesar US$5 milyar – ini baru permulaan. Mereka mau mangamankan pasokan pangannya karena populasi mereka 20% dari populasi dunia namun lahan yang bisa ditanami hanya 7%.
· Qatar, Abu Dhabi dan Saudi Arabia diberitakan telah mulai membeli dan menyewa lahan-lahan pertanian, perkebunan di seantero Asia dan Africa.
· Negara-negara kaya dan didukung oleh perusahaan-perusahaan swasta kelas dunia, perusahaan-perusahaan investasi kelas kakap, seolah kini sedang berlomba mencari, membeli, menyewa lahan-lahan pertanian dan perkebunan di manapun di seluruh dunia dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Melihat fenomena-fenomena diatas, saya seperti sedang membaca cerita terindah di al-Qur’an tentang nabi Yusuf – mereka tahu dunia akan kekurangan pangan – oleh karenanya mereka berusaha ‘bercocok tanam dengan sungguh-sungguh’ untuk menghadapi masa paceklik. (QS 12 :47).
Sedangkan kita apa yang kita lakukan? hampir setiap hari kita disuguhi dengan kesibukan luar biasa oleh para pemimpin-pemimpin kita. Mereka bukan sibuk bekerja untuk menyiapkan rakyat agar siap mengatasi paceklik yang akan datang, mereka bukan sibuk menggerakkan dana dan seluruh kekuatan yang kita miliki untuk ‘bercocok tanam secara sungguh-sungguh’, mereka sibuk untuk urusan-urusan panggung politik yang tidak ada kaitannya dengan kemakmuran rakyat. Bahkan untuk urusan kisruh sepakbola saja – seolah negeri ini telah kehabisan resources untuk mengatasinya – tidak bisa teratasi oleh bangsa sendiri dan harus menyerah pada keputusan pihak luar.
Tetapi sekali lagi, tidak ada gunanya kita meratapi ini. Kita bisa mulai berbuat dari diri kita sendiri, mulai dari yang kita bisa dan kita tahu – insyaAllah Allah akan memberitahu apa yang kita belum tahu. Kalau bukan kita-kita sendiri yang mulai berbuat, lantas siapa lagi yang akan melakukannya untuk kita, untuk anak-anak dan cucu-cucu kita ?. InsyaAllah kita bisa !. Amin

MENJADI BANGSA PINTAR, MERAIH KEJAYAAN

Resensi Buku Menjadi Bangsa Pintar 
Karya Ir. H. Heppy Trenggono, M.Kom.

Indonesia harus menjadi bangsa pintar! Inilah kunci untuk meraih kembali kejayaan bangsa ini. “Petuah” ini termaktub dalam buku karya Heppy Trenggono, Presiden Direktur United Balimuda, sebagaimana tertera eksplisit sebagai judulnya, Menjadi Bangsa Pintar.
Dahulu di masa Kerajaan Majapahit Indonesia adalah bangsa besar dengan pengaruh ekonomi-politik yang luas dan kuat. Begitu digdaya Majapahit kala itu, kekuasaannya konon tak hanya mencakup kepulauan Nusantara, tapi juga menjangkau kawasan Filipina, Thailand, Myanmar, Singapura, dan Malaysia.

Belajar dari Bangsa Lain

Demi mengembalikan kejayaannya, Indonesia mesti becermin dan belajar dari bangsa lain. Mengapa bangsa tertentu dapat meraih kesuksesan dan mengapa bangsa lain mengalami keterpurukan?
Ternyata, kunci sukses suatu bangsa terletak terutama pada aspek kualitas dan mentalitas manusia-nya (SDM), dan bukan semata pada kekayaan alamnya (SDA). Bangsa bermentalitas unggul-lah yang sukses meraih kejayaan. Bangsa seperti ini perlu ditiru dan dijadikan teladan bagi Indonesia.
Heppy Trenggono memaparkan tipologi bangsa-bangsa di dunia ke dalam empat jenis. Pertama, bangsa terbelakang, yaitu bangsa yang hidup di negeri miskin SDA sementara mereka juga tidak memiliki mentalitas (SDM) unggul: etos kerja rendah, lemah semangat juang, minim penguasaan IPTEK, tidak terampil dan kreatif.
Karena rendah kualitas SDM sementara SDA negerinya terbatas, bangsa jenis ini selalu menggantungkan hidupnya pada bangsa lain. Tidak hanya dibelit masalah ekonomi, bangsa seperti ini sering pula didera kekacauan sosial: konflik antarsuku, agama, dan rasial. Kriminalitas yang tinggi juga menghiasi wajah negerinya yang sudah muram oleh kemiskinan.
Kedua, bangsa bodoh. Negerinya kaya SDA tetapi SDM bangsanya tak unggul. Kekayaan alam yang berlimpah ruah tidak menjadikan bangsa jenis ini dapat menuai kemakmuran dan kesejahteraan. Sebaliknya, minimnya penguasaan IPTEK, rendahnya etos kerja dan semangat juang, serta tipisnya kemandirian dan kepercayaan diri sebagai bangsa unggul menempatkan bangsa bodoh menjadi sasaran “jajahan” bangsa lain.

Apakah Indonesia tergolong bangsa bodoh?

Ketiga, bangsa pejuang. Termasuk bangsa jenis ini antara lain Jepang, Singapura, dan Swiss. Jepang adalah negeri dengan SDA terbatas. Sebagian besar wilayahnya merupakan pegunungan dan hanya sedikit lahan yang bisa ditanami tetumbuhan produktif. Selain itu, 64 tahun silam—bersamaan dengan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya—negeri ini juga sempat terpuruk akibat dibom atom oleh tentara Sekutu.
Namun, dengan semangat juang yang kuat, keterbatasan SDA dan kekalahan dalam Perang Dunia justru menjadi “titik balik” bagi bangsa Samurai untuk meraih kejayaannya. Dan kini, Jepang tampil sebagai raksasa ekonomi dunia di bidang otomotif dan elektronik. Adakah penentu lain kesuksesan itu di luar faktor kualitas dan mentalitas bangsanya?
Keempat, bangsa superstar, tak lain adalah bangsa yang bermentalitas (SDM) unggul sekaligus kaya SDA. Kekayaan alam dipadu penguasaan IPTEK yang sempurna serta etos kerja dan kepercayaan diri yang kuat menjadikan bangsa superstar tampil dominan di jagat internasional. Inilah bangsa avant garde yang memegang pengaruh besar di segala ranah kehidupan antar-bangsa. Negara-negara maju di belahan Amerika dan Eropa—seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Prancis, atau Inggris, juga China di Asia—termasuk bangsa superstar.

Prinsip Menjadi Bangsa Pintar

Kekayaan alam bumi Nusantara sangat potensial menjadikan Indonesia sebagai bangsa superstar. SDA yang berlimpah ini harus diimbangi dengan kualitas dan mentalitas SDM yang mumpuni: penguasaan IPTEK, pendidikan unggul, semangat juang dan etos kerja yang kuat, kreatifitas dan inovasi yang tak pernah mati, serta kemandirian dan kepercayaan sebagai bangsa besar yang sanggup mengelola hidupnya sendiri.
Buku ini mengelaborasi secara rinci kualitas dan mentalitas SDM tersebut ke dalam tiga belas prinsip kunci untuk menjadi bangsa pintar. Salah satu prinsip itu yakni prinsip sebagai bangsa pemain. Indonesia sebenarnya pernah menjadi bangsa pemain di jagat perpolitikan dan ekonomi internasional. Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, di bawah komando Bung Karno, Indonesia menjadi pemain kunci dalam mobilisasi kekuatan negara Dunia Ketiga untuk menolak kolonialisme dan imperialisme.
Kepiawaian Indonesia sebagai bangsa pemain tecermin dari keterlibatannya sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, juga kepeloporannya dalam pembentukan Gerakan Non Blok (GNB)—varian politik independen dari dua blok mainstream: Blok Kapitalis dan Blok Komunis. Atas peran kunci Indonesia di ajang KAA, bangsa Afrika menghargai Indonesia dengan mencantumkan “Soekarno” dan “Bandung” sebagai nama jalan di Maroko.
Percaya pada kebaikan juga prinsip bangsa pintar. Mengapa Indonesia begitu mudah terpuruk oleh krisis moneter 1997? Jawabnya, sebab bangsa Indonesia (rezim Orde Baru) membangun negeri ini di atas fondasi keburukan: praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pengekangan kebebasan dan perampasan hak rakyat.
Kebijakan dan birokrasi yang tak adil, tak jujur, dan tak amanah mengakibatkan pembangunanisme mengidap penyakit kronis. Tak heran bila pembangunanisme ala Orde Baru yang bersandar pada keburukan akhirnya terperosok ke jurang kehancuran.
Buku ini menyuguhkan kunci-kunci sederhana untuk kebangkitan kembali Indonesia meraih kejayaannya. Tiga belas prinsip menjadi bangsa pintar yang tercakup di dalamnya merupakan kiat-kiat sederhana namun kerapkali luput dan terabaikan oleh pikiran segenap anak bangsa. Jadi, untuk kebangkitan dan kejayaan Indonesia, buku ini menawarkan banyak inspirasi. Patut dibaca demi masa depan Indonesia!

BANTU INDONESIA

                                              www.bantuindonesia.com

CURHATAN ANAK NEGERI

Sebuah gambaran bagaimana realitas yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Negeri yang kaya raya tetapi rakyatnya menderita. Jangankan untuk bisa mengenyam pendidikan, untuk makan saja banyak rakyat yang harus "berebut" mengais sampah. Disisi lain banyak wakil wakil rakyat yang berlomba memperkaya diri dengan berbagai fasilitas yang sangat mewah. Semoga menyadarkan bagi seluruh rakyat yang mendambakan Perubahan yang Hakiki.

MERETAS JALAN KEBAIKAN

Kebaikan adalah apa saja yang dipandang baik oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Keburukan adalah apa saja yang dianggap buruk oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, bagi seorang Muslim, standar baik-buruk adalah syariah Islam. Karena itu, dalam Islam: iman itu baik, kufur itu buruk; taat itu baik, maksiat itu buruk; adil itu baik, fasik/zalim itu buruk; beramal shalih itu baik, beramal salah itu buruk; pemurah itu baik, kikir itu buruk; pemaaf itu baik, pendendam itu buruk; pejuang syariah dan Khilafah itu baik, penentangnya itu buruk; jihad itu baik, terorisme itu buruk. Demikian seterusnya. Tentu jika semua itu tolok-ukurnya adalah syariah Islam.
Dalam Islam, baik pelaku kebaikan ataupun keburukan tentu akan mendapatkan konsekuensi pahala atau dosa. Pelaku kebaikan akan mendapatkan pahala dan surga. Pelaku keburukan akan mendapatkan dosa dan azab neraka. Namun sesungguhnya konsekuensi bagi keduanya bisa lebih dari itu, yakni saat masing-masing menjadi ‘teladan’ atau ‘ikutan’ bagi orang lain. Seorang pelaku kebaikan akan mendapatkan dua pahala: pahala atas perbuatan baik yang ia lakukan dan pahala dari orang yang meneladani atau mengikuti jejak kebaikannya. Demikian pula pelaku keburukan. Ia pun akan mendapatkan dua dosa: dosa atas perbuatan buruk yang ia lakukan dan dosa dari orang yang ‘meneladani’ atau mengikuti jejak keburukannya. Itulah yang ditegaskan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sabda beliau, sebagaimana dituturkan oleh Jarir bin Abdillah (yang artinya), “Siapa saja yang meretas jalan kebaikan (sunnat[an] hasanat[an]) di dalam Islam, baginya pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala dari orang-orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang meretas jalan keburukan (sunnat[an] sayyi’at[an]) di dalam Islam, baginya dosa atas perbuatan buruknya itu dan dosa dari orang-orang yang mengikuti jejak keburukannya itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).
Maknanya, siapapun yang mempropagandakan kebaikan, baik dengan ucapan atau tindakan, termasuk dengan dukungan, lalu kebaikan  itu dilakukan oleh orang lain maka bagi dirinya dua pahala, sebagaimana dijelaskan di atas. Demikian pula hal sebaliknya (baca: dosa) bagi orang yang mempropagandakan keburukan, baik dengan ucapan atau tindakan, termasuk dengan dukungan (Lihat: Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, I/330).
Hadits Nabi SAW yang lain, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, juga mengungkapkan maksud serupa, yakni saat beliau bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan, bagi dirinya pahala yang serupa dengan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikan itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang menunjukkan jalan kesesatan, bagi dirinya dosa yang serupa dengan dosa orang-orang yang mengikuti kesesatan itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).
Khusus terkait dengan kebaikan, Baginda Rasulullah juga bersabda (yang artinya), “Demi Allah, hidayah Allah yang diberikan kepada seseorang melalui dirimu adalah lebih baik bagi kamu daripada seekor unta merah.” (Mutaffaq ‘alaih).
Unta merah adalah harta yang paling dibanggakan bangsa Arab saat itu; tidak ada yang lebih berharga dari itu (Muhammad ‘Allan, I/336).
Baginda Rasulullah SAW juga bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang menunjukki orang lain pada kebaikan, bagi dirinya pahala yang serupa dengan orang yang melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim).
Oleh sebagian ulama, hadits-hadits ini dijadikan dalil atas keutamaan berdakwah atau menyampaikan hidayah Islam kepada manusia. Hadits ini juga menunjukkan arti pentingnya mengamalkan atau menyebarluaskan ilmu. Bahkan ilmu yang diamalkan atau disebarluaskan merupakan salah satu amalan yang pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya meski ia telah wafat. Hal ini sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW (yang artinya), “Saat anak Adam meninggal, terputus segala (pahala) amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakan dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Walhasil, marilah kita berlomba-lomba meretas jalan kebaikan dengan dua cara. Pertama: dengan menyebarluaskan ilmu-ilmu Islam yang kita miliki meski ilmu yang kita miliki baru sedikit. Kedua: dengan berdakwah menyebarluaskan hidayah Islam kepada manusia. Dakwah adalah aktivitas mulia karena merupakan aktivitas para nabi dan rasul Allah SWT. Hanya dengan dakwahlah umat manusia bisa tertunjukki pada hidayah-Nya; pada akidah dan syariah-Nya. Karena itu, marilah kita mendakwahkan Islam walau dengan menyampaikan hanya satu-dua ayat atau satu-dua hadits. Sebab, Baginda Nabi SAW pernah bersabda (yang artinya), “Sampaikanlah dariku walau cuma satu ayat!” (HR al-Bukhari dan Muslim).

HAKIKAT PIKIRAN DAN PERASAAN

ANDA bukanlah apa yang ANDA PIKIRKAN dan ANDA bukanlah apa yang ANDA RASAKAN. Tapi Anda dapat BELAJAR banyak dari apa yang ANDA PIKIRKAN dan apa yang ANDA RASAKAN... ANDA adalah ANDA yang MERDEKA dari PIKIRAN dan PERASAAN yang MEMENGARUHI ANDA... dan HANYA ALLAH tempat ANDA bergantung, So, jangan gantungkan diri ANDA kepada PIKIRAN dan PERASAAN ANDA, apalagi kepada orang lain di luar sana...

Anda BUKANLAH apa yang Anda PIKIRKAN. Anda adalah Anda, dan Si Pikiran adalah Si Pikiran. Anda bertugas sebagai LEADER dan PENGAMAT bagi Si Pikiran. Jika Si Pikiran sedang NEGATIF, maka cukup amati saja dan beristighfarlah, dan jika Si Pikiran sedang POSITIF maka SUPPORTlah ia... Tak perlu stress karena berusaha mengendalikan Si Pikiran, sebab seringkali justru pikiran yang berhasil mengendalikan Anda...

ALLAH hadirkan PIKIRAN & PERASAAN (2P) kepada Anda sebagai UJIAN. UJIAN dalam bentuk keSENANGan atau penDERITAan. IBLIS dan Syaitan pun MEMENGARUHI dan MENGGODA manusia melalui 2P ini. Sehingga kita harus LIHAI membedakan mana 2P dari Syaitan dan mana 2P dari Tuhan. Itu sebabnya kita butuh KITABULLAH untuk memfilternya.... Anda bukanlah 2P, tapi 2P memang bertugas memengaruhi Anda...

Karena ANDA bukanlah yang ANDA PIKIRKAN, maka jika hadir PIKIRAN yang "Bukan-Bukan" maka tenang saja sebab pelakunya bukanlah Anda, kecuali jika Anda "mengamini" dan "menikmati" Pikiran yang "bukan-bukan" itu ... TOLAKlah pikiran yang "bukan-bukan" itu dengan cara MENGABAIKANnya, TA'AWUDZ, dan BERISTIGHFAR kepada ALLAH.....

Perhatikan EMOSI/PERASAAN Anda, nasehatilah ia sesering mungkin dengan ayat-ayat Ilahi, dan mintalah Allah agar menenangkan sang Emosi. Anda bukanlah Emosi yang Anda rasakan. Anda mah Anda, Emosi mah ya Emosi. Kalau Emosi sedang menteror Anda dan tidak mau diajak berdamai, maka berdo'alah "Hasbunallah wani'mal wakiil, ni'mal maula wani'man nashiir" (Artinya : Cukup Allah bagiku sebagai Pelindung dan Penolong dan Allah lah sebaik-baik Pelindung dan Penolong)

So, Tidak perlulah PIKIRAN dan PERASAAN Anda menganalisa takdir Allah yang belum terjadi atas diri Anda... sehingga Anda gelisah karena analisa Anda dan bukan gelisah karena takdir Nya... sebab takdirNya nanti masih belum terjadi pada diri Anda .... kalaupun kelak sudah terjadi dan Anda tidak menyukainya maka TERIMALAH, karena takdir itu pasti yang terbaik (baca : tercocok) untuk Anda, PASTI!!!

Sehingga lebih baik rasakan saja kehadiran Anda bersamaNya di setiap "saat" maka Anda niscaya selalu dijagaNya... Jangan Takut dan Jangan Khawatir... PenjagaanNya sangatlah sempurna...

Bebaskan diri Anda dari pikiran Anda sendiri. SEJATINYA, Anda berbuat negatif bukanlah karena pikiran Anda , tapi karena Anda sendiri yang kok mau-maunya dipengaruhi oleh Pikiran Anda. Itu sebabnya kelak Anda lah yang bertanggung jawab di hadapan Allah, bukan pikiran Anda. Kelak Pikiran hanya menjadi Saksi dalam penghisaban Anda, sebagaimana Penglihatan, Pendengaran, dan Fuad yang menjadi saksi. Pikiran adalah ujian, tempat syaitan membisikkan banyak hal. Belajar mencuekkan pikiran berarti Anda belajar mencuekkan syaitan. Yuwaswisu fii shuduurinnaas...

Anda adalah Anda yang diwakili oleh RUH yang telah dititipkanNya... RUHlah yang seharusnya menjadi DRIVER/KENDALI dalam kehidupan Anda yang singkat ini...sehingga jangan serahkan KENDALI kehidupan Anda kepada PIKIRAN dan PERASAAN Anda...

"Ya Allah, jangan izinkan emosiku, pikiranku, dan jasadku mengikat, mencemari, dan memengaruhi kefitrahan Ruh titipanMu ini. Tolong jagalah Ruh dariMu padaku ini, sehingga Ruh ini tetap bisa menjadi Driver bagi kehidupanku..."

Sahabat, semoga kita terlindungi dari hal menuhankan dan mengbadi kepada Pikiran dan Perasaan... sebab hanya Allah lah yang berhak dituhankan, sedangkan pikiran, perasaan, dan orang lain adalah sebagai pembelajaran dan kawan sinergi untuk bersama-sama bertemu Allah, insya Allah..