Selasa, 27 Maret 2012

One Asia Foundation: Membangun Regionalisme Asia sebagai Poros Ekonomi Dunia

Globalisasi merupakan suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas Negara. Globalisasi sebagai suatu proses bukanlah suatu fenomena baru karena proses globalisasi sebenarnya telah ada sejak berabad-abad lamanya. Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 arus globalisasi semakin berkembang pesat di berbagai negara ketika mulai ditemukan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi.
Menurut Setiadi (2011:686) globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan yakni politik, ekonomi, dan budaya. Yang menjadi dasar dari gejala globalisasi yaitu tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu mencukupi kebutuhannya  sendiri. Demikian halnya dengan Asia, negara-negara Asia semakin penting bagi satu sama lain dan bagi dunia. Output Asia saat ini secara kasar setara dengan output dari negara-negara Eropa atau Amerika Utara, dan mungkin saja 50 persen lebih besar pada tahun 2020 (dari segi paritas daya beli).
Melihat kegagalan AS dan Eropa sebagai “poros ekonomi dunia” akibat ulahnya sendiri, saatnya Asia mengambil peran tersebut. Inilah momentum terbaik kebangkitan perekonomian Asia. Negara-negara Asia yang ekonominya berkembang pesat, seperti China, India, Korea Selatan dan Indonesia, mempunyai potensi besar memujudkan hal tersebut. Tantangan bagi Asia yang kian makmur dan kian saling tergantung adalah memperkuat dan menyebarkan manfaat dari kerja sama regional, sambil memainkan peran yang penting dan konstruktif dalam kepemimpinan ekonomi global. Begitu negara-negara Asia itu tumbuh semakin besar dan kompleks, mereka juga menjadi lebih terintegrasi melalui perdagangan, arus keuangan, investasi langsung, dan bentuk-bentuk lain dari pertukaran ekonomi dan sosial.
Perdagangan di antara negara-negara Asia sama besarnya dengan perdagangan Asia dengan Eropa dan Amerika Utara dalam kawasan masing-masing. Kajian ini menemukan bahwa enam ukuran saling-ketergantungan dari 16 negara utama di Asia telah meningkat secara nyata sejak krisis keuangan tahun 1997-1998. Berbagai kesepakatan menunjukan bahwa para pemimpin di kawasan ini menyambut baik menempatkan hubungan dan kerja sama regional pada prioritas teratas.

Gagasan Regionalisme Asia
Kemana pasar mengarah, pemerintah mengikuti. Krisis yang terjadi tahun 1997-1998 menggarisbawahi integrasi Asia dan adanya kepentingan bersama, serta membuka kelemahan arsitektur kebijakan global. Hal tersebut memberi momentum kebangkitan regionalisme Asia dan mengarah kepada inisiatif-inisiatif besar antar-pemerintah. Tetapi kerja sama antar pemerintah Asia masih akan berkembang. Pada akhirnya, institusi-institusi Asia nantinya perlu mengatasi sejumlah permasalahan yang tidak bisa ditangani dengan baik oleh pasar.
Tantangan-tantangan mencakup penyediaan barang-barang publik regional, pengelolaan dampak lanjutan di antara negara-negara, penggunaan pengaruh Asia di forum-forum ekonomi global, liberalisasi perdagangan dan investasi, serta dukungan untuk menyempurnakan kebijakan nasional yang merupakan taruhan penting bagi kawasan ini. Kerja sama regional seharusnya tidak dijadikan sebagai tujuan bagi kepentingannya sendiri, tetapi pada bidang ini dan bidang-bidang lain kerja sama regional bisa menjadi alat yang sangat kuat, dan bahkan sangat penting, untuk menangani konsekuensi saling ketergantungan.
Regionalisme Asia yang dinamis dan berorientasi keluar, sejalan dengan keragaman kawasan dan sadar akan peluangnya di pasar terbuka global, akan membantu menstabilkan dan memperkuat ekonomi dunia. Perkembangan seperti ini menjadi kepentingan semua orang. Saat ini, tiket Asia menjadi “poros ekonomi dunia” dan menggeser peran AS dan Eropa sangat terbuka. Bahkan menurut Mahbubani (2011:61) China sudah bisa menjadi pusat kekuatan (power house) ekonomi dunia yang mampu mendorong ke arah pemulihan ekonomi global. Tinggal dibutuhkan kesadaran, komitmen, dan kerja sama antar negara Asia untuk mewujudkan ikrar merdu tersebut.
Membangun Integrasi Produksi Asia
Hubungan-hubungan perdagangan dan investasi Asia sudah maju, dan integrasi produksi regional menjadi penting bagi kepemimpinan Asia dalam industri pabrikan global. Dengan terbaginya rantai produksi menjadi tahapan-tahapan yang lebih kecil, dan tiap tahapan diproduksi di lokasi yang paling menghemat biaya, saling keterhubungan Asia telah menjadi aset utama dalam menarik investasi dan produksi global. Asia diberkahi beberapa keuntungan produksi utama, angkatan kerja yang besar dan beragam, sumber daya yang melimpah, kemajuan teknologi dan dapat menggabungkannya secara efisien karena rendahnya hambatan perdagangan dan hubungan transportasi dan komunikasi yang berkembang baik. Perdagangan di dalam kawasan Asia telah meningkat secara tajam, dan perdagangan suku cadang dan komponen memainkan peran yang cukup besar.
Republik Rakyat China (RRC) seringkali menjadi pusat jaringan produksi tersebut, tetapi sebagian besar ekonomi regional berpartisipasi di dalamnya. Sistem produksi Asia yang efsien juga sangat terkait dengan perekonomian global; pangsa besar dari ekspor barang-barang jadi di kawasan ini akhirnya ditujukan bagi pasar-pasar Eropa dan Amerika Utara.
Kemajuan dan Peluang Asia
Pembangunan Asia memiliki dampak positif yang luas terhadap kehidupan masyarakat. Bahkan sebagian besar negara Asia telah membuat kemajuan yang luar biasa dalam mengurangi kemiskinan. Perjuangan untuk kehidupan yang lebih baik dimulai dengan menciptakan pekerjaan dengan produktivitas tinggi. Pemerintah perlu menghubungkan masyarakat miskin dengan ekonomi regional yang sedang tumbuh, dengan menghilangkan hambatan pasar kerja, berinvestasi meningkatkan kemampuan para pekerja, dan membangun infrastruktur untuk menghubungkan daerah yang tidak beruntung dengan pusat-pusat ekonomi.
Kerja sama regional juga tak kalah pentingnya untuk mengatasi sejumlah ancaman, termasuk epidemi, bencana alam dan penurunan kualitas lingkungan. Asia yang berpenduduk padat dan sangat terintegrasi membutuhkan sistem kelas-dunia untuk memantau, mencegah dan (jika perlu) membendung epidemi. Dalam hal ini perlu kerja sama untuk merespon bencana alam dengan lebih cepat, lebih efektif dan tidak mahal. Dan perlu dilakukan upaya bersama regional untuk mengendalikan sejumlah masalah lingkungan yang muncul sebagai akibat pembangunan yang pesat.
Menciptakan Arsitektur bagi Kerja Sama Asia
Kebutuhan akan kerja sama regional di Asia yang lebih besar adalah luas, dalam dan kuat. Arsitektur kerja sama kawasan saat ini mencakup banyak forum, dari kerja sama subkawasan hingga kerja sama antar kawasan. Forum-forum ini menawarkan kemampuan untuk mengatasi isu-isu bervariasi dari kerja sama teknis (misalnya, dalam proyek-proyek infrastruktur) sampai kesepakatan global yang luas dan inter regional (misalnya, di bidang teknologi). Upaya-upaya ini sering berpusat pada Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), yang memiliki sejarah panjang tentang dan kerangka kerja yang maju bagi kerja sama regional. Secara bersamaan, forum-forum ini menawarkan arsitektur dengan berbagai jalur dan berbagai kecepatan yang sangat sepadan dengan banyaknya tantangan dan keragaman yang luas di kawasan ini. Arsitektur ini juga menciptakan persaingan sehat di antara forum untuk menunjukkan efektivitas mereka.
Terlalu dini mempertimbangkan penugasan yang tegas dari fungsi kelembagaan bagi forum-forum ini dalam arsitektur semacam ini masing-masing mempunyai bidang keunggulan komparatif yang berbeda. Namun ASEAN+3 (termasuk RRC, Jepang, dan Republik Korea) muncul sebagai unit koordinasi yang sangat berguna: ia menarik manfaat dari pengalaman dan dukungan kelembagaan ASEAN, menggabungkan tiga negara ekonomi terbesar Asia, dan secara umum sangat terintegrasi. ASEAN+3 merupakan tempat yang logis bagi sebuah Sekretariat Asia untuk Kerja Sama Ekonomi yang diusulkan untuk dibentuk. Integrasi Asia perlu tetap fleksibel untuk mengakomodasi kelompok-kelompok dengan prioritas yang berbeda atau berubah, dan untuk menyerap kekuatan ekonomi baru dan isu-isu ke dalam proses. Integrasi Asia juga perlu meningkatkan pada konektivitas fisik, untuk menjamin agar inisiatif ASEAN+3 ataupun Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur (ASEAN+3 dan Australia, India dan Selandia Baru) sejalan dengan rencana infrastruktur dari kelompok subkawasan, di satu sisi, dan kerangka kerja kebijakan global yang muncul pada forum-forum antar-kawasan dan global, di sisi lain.
Akhirnya, perekonomian Asia akan mempunyai pasar tunggal dengan regulasi bersama, mata uang bersama, dan kebebasan yang lebih besar bagi pergerakan pekerja. Namun kebijakan jangka pendek membutuhkan visi jangka panjang dan inisiatif pragmatis yang membuahkan hasil-hasil awal yang lebih cepat, langkah demi langkah.
Asia tampaknya akan mengadopsi pilihan-pilahan yang sudah diidentifkasi dalam kajian ini untuk memfasilitasi integrasi, mengelola efek sampingnya, dan membuat pertumbuhan menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. Regionalisme Asia menjadi lebih percaya diri pada potensinya untuk memberikan kontribusi bagi kesejahteraan Asia dan dunia.
Kita menyaksikan awal mula sebuah komunitas ekonomi Asia yang kuat, sejahtera, berorientasi keluar, terintegrasi secara regional namun terhubung dengan pasar global, dan memiliki tanggung jawab serta pengaruh yang sepadan dengan bobot ekonominya. Kebangkitan regionalisme Asia adalah suatu kekuatan sejarah yang sangat berpengaruh sebagai suatu kemitraan bagi kemakmuran regional dan global bersama. Dengan demikian, dalam kurun waktu yang dekat sangat memungkinkan untuk membentuk sebuah komunitas besar Asia Raya.



1 komentar:

  1. klo mau buat artikel tentang komunitas masyarakat asia yg di perhattin apa aja ?

    BalasHapus